top of page

Equityworld Futures | Minyak Koreksi di Tengah Harapan Pembukaan Jalur Hormuz

Sep 14
2 min read

Harga minyak dunia terkoreksi pada perdagangan Jumat (11/9) seiring meningkatnya aktivitas pengeboran di Amerika Serikat dan munculnya harapan terhadap kemajuan diplomasi yang dapat membuka kembali arus pelayaran melalui Selat Hormuz. Perkembangan tersebut membantu meredakan sebagian kekhawatiran pasar mengenai risiko gangguan pasokan energi global. [newsmaker.id]


Tekanan terhadap harga minyak datang setelah laporan Baker Hughes Rig Count menunjukkan jumlah rig minyak aktif di Amerika Serikat bertambah satu unit menjadi 450 rig pada pekan ini. Kenaikan jumlah rig umumnya dipandang sebagai sinyal potensi peningkatan produksi minyak di masa depan, yang berpotensi menambah pasokan dan menekan harga. [newsmaker.id]


Di sisi lain, sentimen pasar membaik setelah beredar laporan bahwa para menteri luar negeri negara-negara Teluk berencana mengadakan pertemuan dengan Iran. Upaya diplomatik tersebut disebut bertujuan memperoleh dukungan bagi kesepakatan sementara yang memungkinkan lalu lintas kapal kembali melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia. Kehadiran sinyal diplomasi ini menurunkan sebagian premi risiko yang sebelumnya mendorong reli harga minyak. [newsmaker.id]


Meski demikian, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dilaporkan telah mencapai Pulau Perim di kawasan Selat Bab el-Mandeb. Langkah tersebut memperkuat posisi mereka di salah satu jalur pelayaran strategis dunia dan membuat pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan distribusi energi global. Akibatnya, premi risiko geopolitik masih bertahan pada level yang relatif tinggi. [newsmaker.id]


Kekhawatiran pasar juga diperkuat oleh proyeksi dari International Energy Agency (IEA) yang memperkirakan pasokan dan permintaan minyak global akan mengalami penurunan lebih dalam dibandingkan estimasi sebelumnya akibat dampak perang yang berkepanjangan. Untuk tahun 2026, pasokan minyak dunia diperkirakan menyusut sekitar 5,7 juta barel per hari atau hampir 6 persen. [newsmaker.id]


Peringatan serupa datang dari CEO Chevron, Mike Wirth, yang menilai bantalan pasokan global yang selama ini membantu menahan lonjakan harga mulai menipis. Menurutnya, konflik yang terus berlanjut berpotensi kembali mendorong harga minyak ke level yang lebih tinggi apabila terjadi gangguan pasokan tambahan. [newsmaker.id]

Di pasar fisik Amerika Serikat, minyak Light Louisiana Sweet untuk pengiriman Oktober tercatat turun 50 sen, dengan premium sekitar US$6 per barel terhadap kontrak berjangka minyak mentah AS. Rentang penawaran berada di kisaran premium US$5,50 hingga US$6,50 per barel. [newsmaker.id]


Analisis

Koreksi harga minyak saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu meningkatnya potensi produksi minyak AS dan optimisme pasar terhadap kemungkinan dibukanya kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Namun demikian, prospek minyak belum sepenuhnya berubah menjadi bearish karena sejumlah risiko pasokan masih membayangi pasar.

Ancaman terhadap jalur pelayaran di Bab el-Mandeb, penyusutan cadangan pasokan global, dan ketidakpastian akibat konflik geopolitik masih menjadi faktor penopang harga. Oleh karena itu, arah pergerakan minyak dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada perkembangan diplomasi terkait Hormuz. Jika kesepakatan dapat segera terealisasi, tekanan terhadap premi risiko geopolitik berpotensi meningkat. Sebaliknya, setiap hambatan dalam proses negosiasi dapat kembali memicu penguatan harga minyak dunia. [newsmaker.id]


Sumber: Newsmaker

 
 
 

Comments


Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags
Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square

© 2023 by Annex. Proudly created with Wix.com

  • Grey Twitter Icon
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Google+ Icon
  • Grey Instagram Icon
bottom of page