Equityworld Futures | Harga Emas Terjun Bebas, Kekhawatiran Inflasi AS Mengguncang Pasar

Jakarta - Harga emas dunia mengalami tekanan besar pada perdagangan Kamis (22/10/2026) setelah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat dan prospek kebijakan moneter yang tetap ketat dari Federal Reserve (The Fed). Kondisi tersebut mendorong aksi jual di pasar logam mulia dan menyeret harga emas ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir. [newsmaker.id]
Di pasar berjangka COMEX New York, kontrak emas pengiriman Desember ditutup turun 2,2% ke level US$4.060,40 per troy ounce. Sementara itu, kontrak emas pengiriman Oktober melemah 2,12% atau sekitar US$87,70 menjadi US$4.042,80 per troy ounce, mencatat penurunan harian terdalam sejak akhir September lalu. [newsmaker.id]
Tekanan juga terjadi di pasar spot. Harga emas spot (XAU/USD) jatuh 2,9% ke US$4.022,39 per troy ounce, sekaligus menyentuh level terendah sejak 3 Agustus 2026. Penurunan tersebut berlangsung seiring melonjaknya harga minyak mentah sekitar 4% yang mencapai posisi tertinggi dalam lima bulan terakhir. [newsmaker.id]
Lonjakan harga energi dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk serangan kelompok Houthi di Arab Saudi yang memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Situasi tersebut memperbesar risiko inflasi, sehingga pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan suku bunga tinggi bertahan lebih lama di Amerika Serikat. [newsmaker.id]
Selain faktor energi, data inflasi konsumen dan produsen AS yang sebelumnya tercatat lebih tinggi dari ekspektasi turut memperkuat pandangan bahwa tekanan harga masih belum sepenuhnya mereda. Meskipun pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober mendatang, peluang kenaikan suku bunga pada Desember masih diperkirakan mencapai sekitar 78%, berdasarkan CME FedWatch Tool. [newsmaker.id]
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi faktor utama yang mengurangi daya tarik emas. Kondisi ini terjadi karena aset tanpa imbal hasil seperti emas cenderung kurang diminati ketika instrumen berbunga menawarkan pengembalian yang lebih menarik. [newsmaker.id]
Ke depan, pasar emas diperkirakan masih bergerak volatil seiring perkembangan harga energi, konflik Timur Tengah, dan arah kebijakan moneter AS. Investor juga menunggu rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) pada 29 Oktober yang dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai langkah The Fed selanjutnya. [newsmaker.id]
Level psikologis US$4.000 per troy ounce kini menjadi area penting yang diawasi pelaku pasar. Jika tekanan jual berlanjut, emas berpotensi menguji level tersebut. Sebaliknya, apabila kekhawatiran inflasi mulai mereda dan imbal hasil obligasi AS melemah, peluang pemulihan harga emas dapat kembali terbuka. Namun untuk saat ini, kuatnya ekspektasi pengetatan moneter masih menjadi hambatan utama bagi pergerakan logam mulia. [newsmaker.id]
Sumber: Newsmaker.id
















Comments