Equityworld Futures | Emas Stabil, Pasar Tunggu Arah The Fed dan Data Inflasi AS

Harga emas bergerak relatif stabil pada perdagangan Rabu setelah mencatat kenaikan signifikan sebesar 1,6% pada sesi sebelumnya. Logam mulia tersebut bertahan di sekitar level US$4.180 per troy ounce, di tengah sikap hati-hati investor yang menunggu petunjuk baru dari kebijakan moneter Amerika Serikat serta rilis data inflasi penting pekan ini. [newsmaker.id]
Pergerakan emas saat ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor yang saling bertentangan. Di satu sisi, meredanya harga minyak membantu mengurangi kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi akibat energi. Penurunan harga minyak terjadi setelah pasokan dari Timur Tengah mulai pulih, terutama menyusul peningkatan aliran minyak melalui jalur pipa utama oleh Arab Saudi. Kondisi tersebut memberikan harapan bahwa tekanan inflasi energi dapat mulai berkurang. [newsmaker.id]
Meski demikian, pasar emas masih menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Yield Treasury tenor panjang terus menanjak dan telah mencapai level tertinggi sejak tahun 2002. Kenaikan yield biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, sehingga investor cenderung beralih ke aset berbunga ketika tingkat pengembalian obligasi meningkat. [newsmaker.id]
Selain itu, sejumlah pejabat Federal Reserve masih memberikan sinyal bahwa ruang untuk pengetatan kebijakan moneter belum sepenuhnya tertutup. Presiden Federal Reserve New York, John Williams, menyatakan bahwa satu kali kenaikan suku bunga tambahan pada akhir tahun masih dapat diperlukan jika kondisi ekonomi mendukung. Pernyataan tersebut menjaga ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kebijakan moneter yang tetap ketat dalam beberapa bulan mendatang. [newsmaker.id]
Namun, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan Oktober mulai berkurang. Peluang kenaikan suku bunga kini berada di sekitar 50%, turun dari sebelumnya sekitar 70%. Penurunan probabilitas tersebut membantu menopang harga emas dan memberikan kesempatan bagi logam mulia untuk mempertahankan penguatannya meskipun dolar AS dan yield Treasury masih berada pada level tinggi. [newsmaker.id]
Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang merupakan indikator inflasi pilihan The Fed, serta laporan Non-Farm Payrolls (NFP). Kedua data tersebut diperkirakan menjadi penentu utama arah kebijakan suku bunga bank sentral AS selanjutnya. Hasil data yang lebih lemah dapat memperkuat prospek jeda pengetatan dan mendukung emas, sementara data yang kuat berpotensi kembali menekan harga logam mulia. [newsmaker.id]
Dengan dinamika tersebut, pasar emas saat ini berada dalam fase menunggu dan cenderung bergerak terbatas. Investor masih mencari kepastian mengenai arah inflasi dan langkah The Fed sebelum mengambil posisi yang lebih agresif, menjadikan data ekonomi AS dalam beberapa hari ke depan sebagai katalis utama pergerakan harga emas. [newsmaker.id]
Sumber: Newsmaker
















Comments