Equityworld Futures | Emas Sentuh Level Tertinggi 10 Minggu, Didorong FOMO dan Permintaan Kuat dari China

Harga emas kembali mencatat kenaikan signifikan dan mencapai level tertinggi dalam hampir 10 minggu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven, didorong oleh fenomena fear of missing out (FOMO) serta meningkatnya permintaan emas dari China. [id.investing.com]
Pada perdagangan Selasa pagi, harga emas spot (XAU/USD) naik sekitar 0,4% ke level US$4.408 per ons, sementara kontrak berjangka emas menguat 1,1% menjadi US$4.466 per ons. Kenaikan tersebut memperpanjang tren positif yang telah berlangsung sejak akhir pekan lalu, ketika data tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan pelemahan yang tidak terduga. [id.investing.com]
Momentum Bullish Semakin Kuat
Reli emas kali ini terbilang menarik karena terjadi bersamaan dengan penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi Treasury, dan meningkatnya harga energi. Dalam kondisi normal, faktor-faktor tersebut biasanya menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen pendapatan tetap. Namun, kali ini permintaan investor terbukti lebih dominan. [id.investing.com]
Menurut analis pasar senior IG, Tony Sycamore, kenaikan harga emas didorong oleh kombinasi beberapa faktor. Banyak investor yang sebelumnya melewatkan peluang membeli saat harga emas sempat turun ke area US$4.000 kini kembali masuk ke pasar karena khawatir tertinggal momentum kenaikan. Selain itu, penutupan posisi jual (short covering) oleh pelaku pasar spekulatif turut mempercepat penguatan harga. [id.investing.com]
Fokus Pasar Tertuju pada Inflasi AS
Pelaku pasar saat ini menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat, termasuk Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI). Kedua data tersebut dipandang penting untuk menentukan arah kebijakan moneter Federal Reserve dalam beberapa bulan mendatang. [id.investing.com]
Berdasarkan data CME FedWatch, pasar memperkirakan probabilitas sekitar 52% untuk kenaikan suku bunga pada September dan 81% untuk kenaikan pada Desember. Kebijakan suku bunga The Fed menjadi perhatian utama karena memiliki pengaruh besar terhadap daya tarik emas sebagai aset investasi. Ketika suku bunga meningkat, investor biasanya cenderung beralih ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. [id.investing.com]
China Menjadi Penopang Penting
Selain faktor global, dukungan kuat juga datang dari China. Data resmi menunjukkan Bank Rakyat China (PBOC) meningkatkan cadangan emasnya pada Juli dalam jumlah terbesar sejak Oktober 2023. Langkah ini memperkuat keyakinan pasar bahwa permintaan emas dari sektor resmi China masih akan terus berlanjut. [id.investing.com]
Sebagai salah satu konsumen dan pembeli emas terbesar di dunia, aktivitas pembelian oleh China memiliki dampak besar terhadap pergerakan harga global. Ketika permintaan dari negara tersebut meningkat, pasar biasanya merespons dengan sentimen positif yang mendorong kenaikan harga emas. [id.investing.com]
Faktor Geopolitik Masih Mendukung
Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik juga menjadi katalis tambahan. Pembahasan terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz masih berlangsung, meskipun Iran dan Oman disebut semakin dekat menuju kesepakatan. Namun, sejumlah persyaratan yang diajukan Iran membuat ketidakpastian tetap tinggi, sehingga investor terus mempertahankan minat pada aset safe haven seperti emas. [id.investing.com]
Potensi Menuju Level Baru
Secara teknikal, emas kini mendekati area resistensi penting di kisaran US$4.460 hingga US$4.500 per ons. Area tersebut dianggap sebagai penghalang utama sebelum harga dapat melanjutkan kenaikan lebih jauh. Apabila mampu menembus level tersebut secara konsisten, peluang emas untuk bergerak menuju target jangka panjang yang lebih tinggi akan semakin terbuka. [id.investing.com]
Dengan kombinasi antara meningkatnya permintaan China, sentimen FOMO investor, serta ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global, prospek emas dalam jangka pendek masih terlihat kuat. Namun, arah selanjutnya tetap akan sangat bergantung pada hasil data inflasi AS dan keputusan kebijakan Federal Reserve dalam beberapa bulan mendatang. [id.investing.com]
Sumber: Investing.com














Comments