Equityworld Futures | Harga Minyak Lanjut Melemah, Pasar Cermati Sinyal Deeskalasi Konflik dari Trump
- Apr 2
- 2 min read

Harga minyak dunia kembali melanjutkan tren pelemahan seiring meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap kemungkinan meredanya konflik geopolitik yang melibatkan Iran. Sentimen positif ini dipicu oleh sinyal dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai mendorong berakhirnya perang di kawasan tersebut, konflik yang sebelumnya sempat mengguncang pasar energi global.
Pada perdagangan terbaru, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat turun hingga 1,8% ke level US$98,37 per barel, setelah sebelumnya sudah melemah 1,2% pada hari Rabu. Penurunan ini terjadi menjelang pidato prime-time Presiden Trump yang dijadwalkan berlangsung pukul 21.00 waktu Timur AS. Seorang pejabat Gedung Putih menyebutkan bahwa Trump akan menyampaikan pesan bahwa operasi militer berpotensi berakhir dalam dua hingga tiga pekan ke depan.
Meski demikian, perhatian utama investor masih tertuju pada situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi tulang punggung perdagangan energi global. Konflik yang terjadi telah secara efektif menutup selat tersebut, sehingga menahan pasokan minyak mentah, gas alam, serta produk energi turunan seperti diesel ke pasar internasional. Kondisi ini sebelumnya membuat harga energi melonjak dan memicu kekhawatiran akan meningkatnya tekanan inflasi di berbagai negara.
Walaupun harga minyak berjangka menunjukkan pelemahan dalam beberapa hari terakhir, patokan minyak AS tercatat masih hampir 50% lebih tinggi dibandingkan level sebelum perang pecah. Hal ini mencerminkan bahwa risiko pasokan belum sepenuhnya hilang dari perhitungan pasar.
Analis menilai bahwa sekalipun konflik berhasil diredakan sesuai target Presiden Trump, pemulihan arus pasokan energi tidak akan berlangsung cepat. Normalisasi pengiriman melalui Selat Hormuz diperkirakan membutuhkan waktu, terutama karena sebagian infrastruktur energi dilaporkan mengalami kerusakan dan berpotensi memerlukan perbaikan jangka panjang. Selain itu, penumpukan pasukan militer AS di kawasan Timur Tengah terus menjaga tingkat kewaspadaan pasar tetap tinggi.
Peringatan juga datang dari Badan Energi Internasional (IEA), yang menyebutkan bahwa sejumlah negara berisiko menghadapi penjatahan energi seiring semakin dalamnya guncangan pasokan bulan ini. Dampak gangguan rantai pasok mulai terasa di tingkat konsumen, terlihat dari laporan sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di negara-negara seperti Prancis hingga Australia yang sempat kehabisan stok.
Di sisi diplomatik, ketidakpastian masih membayangi pasar. Trump mengklaim bahwa Teheran telah meminta gencatan senjata. Namun, pernyataan tersebut dibantah pihak Iran yang menegaskan bahwa pembukaan Selat Hormuz tidak akan dilakukan hanya karena apa yang mereka sebut sebagai “aksi absurd” pemimpin AS. Iran menekankan bahwa keputusan tersebut harus melibatkan peran Iran dan Oman sebagai pihak kunci di wilayah tersebut.
Situasi yang serba tidak pasti ini mendorong investor membanjiri pasar opsi untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan, mulai dari skenario penurunan harga minyak yang tajam jika konflik cepat mereda, hingga lonjakan baru apabila gangguan pasokan berlanjut. Dengan dinamika geopolitik dan ekonomi yang masih cair, volatilitas harga energi diperkirakan tetap tinggi dalam waktu dekat.




















Comments