top of page

Equityworld Futures | Perak Masih Berfluktuasi, Ketegangan Selat Hormuz dan Inflasi Membebani Pasar

  • Apr 23
  • 2 min read

Harga perak global masih bergerak tidak stabil di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan tekanan makroekonomi. Pada Kamis, 23 April 2026, harga logam putih ini tercatat bertahan di atas level USD 78 per ons, namun volatilitas tetap tinggi seiring pasar merespons perkembangan konflik di Timur Tengah dan prospek inflasi global yang belum mereda. [newsmaker.id]


Risiko Geopolitik Menjaga Ketidakpastian

Salah satu faktor utama yang menahan laju pergerakan perak adalah situasi di Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis ini kembali menjadi sorotan setelah Iran dilaporkan membatasi sebagian besar lalu lintas internasional. Bahkan, dalam beberapa hari terakhir muncul laporan adanya insiden penembakan terhadap kapal komersial, yang semakin meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi. [newsmaker.id]

Di sisi lain, Amerika Serikat tetap mempertahankan tekanan terhadap Iran melalui blokade pelabuhan. Langkah ini memicu ketegangan lanjutan karena Teheran menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan. Meski Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata akan berlaku tanpa batas waktu sambil menunggu proposal perdamaian baru, pasar masih meragukan efektivitas dan keberlanjutannya. [newsmaker.id]


Harga Energi Tinggi, Inflasi Tetap Mengancam

Ketegangan di Selat Hormuz berdampak langsung pada harga energi global. Risiko gangguan distribusi minyak membuat harga energi bertahan di level tinggi, yang pada akhirnya menjaga tekanan inflasi tetap kuat. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi pasar logam mulia, termasuk perak, karena inflasi tinggi meningkatkan kemungkinan bank sentral mempertahankan suku bunga pada level tinggi atau bahkan menaikkannya. [newsmaker.id]

Bagi perak, lingkungan suku bunga tinggi merupakan tantangan tersendiri. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, perak cenderung kehilangan daya tarik ketika biaya peluang meningkat dan investor memilih instrumen berbasis bunga.


Tekanan Fundamental Masih Dominan

Sejak konflik di Timur Tengah kembali memanas, perak disebut telah mengalami penurunan sekitar 17 persen dari level sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan tekanan fundamental yang masih kuat, di mana kekhawatiran inflasi dan arah kebijakan moneter menjadi faktor utama yang memengaruhi minat investor. [newsmaker.id]

Volatilitas yang terjadi juga menandakan bahwa pasar belum menemukan arah yang jelas. Di satu sisi, perak masih berpotensi berfungsi sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik. Namun di sisi lain, ekspektasi suku bunga yang tinggi untuk periode lebih panjang terus membatasi ruang penguatan harga.


Prospek Jangka Pendek

Dalam jangka pendek, pergerakan harga perak diperkirakan tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta data dan sinyal inflasi global. Selama risiko di Selat Hormuz belum mereda dan tekanan inflasi masih bertahan, volatilitas kemungkinan akan tetap menjadi ciri utama pasar perak.

Investor dan pelaku pasar pun cenderung mengambil sikap wait and see, sambil mencermati apakah ada de-eskalasi konflik atau perubahan signifikan dalam kebijakan moneter global yang dapat memberikan arah baru bagi pergerakan logam mulia ini.


 
 
 

Comments


Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags
Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square

© 2023 by Annex. Proudly created with Wix.com

  • Grey Twitter Icon
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Google+ Icon
  • Grey Instagram Icon
bottom of page